Selasa, 24 November 2020

CERITA PENDEK DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI GURU

KERINDUAN

 

Angin sepoi – sepoi menghadang tubuhku, nyanyian burung terdengar merdu seperti memanggil raja siang yang masih malu untuk keluar. inilah aku, seorang siswa dari sekolah biasa dengan tubuh yang kurus namun tinggi yang sedang mengayuh sepeda gunungku menuju ke sekolah. Orang – orang pasti mempunyai pendapat yang berbeda, yang satu menganggapku orang miskin karena naik sepeda, dan satunya lagi menanggapku sebagai manusia yang gila olahraga. Tentunya diriku ini memiliki hobi dalam bersepeda. Selain menghemat uang jajan, aku membuat diriku untuk tidak iri dengan kawan – kawanku yang menaiki mesin beroda dua atau beroda empat itu, dan tentunya aku bisa terbebas macet di kota yang besar ini.

 

Aku biasanya mengayuh sepeda sejauh enam koma tujuh kilometer dengan waktu tempuh sekitar dua puluh menit untuk sampai ke sekolah. Pembelajaran disekolah biasanya dilaksanakan pada pukul enam lewat tiga puluh menit, sedangkan aku berangkat dari rumah pada pukul enam pagi. “selamat  pagi.” Kata guru – guruku dengan senyuman, “selamat pagi bapak dan ibu” Aku membalas sapaan guruku dengan muka senyum sambil mencium tangan guru - guruku. Setiap hari guru - guru menunggu kedatangan siswa – siswa kebanggaan mereka di depan gerbang sekolah. Terkadang selain menyapa, bapak dan ibu guru juga mengecek kerapihan kita, seperti tidak boleh memakai jaket dan tidak boleh memiliki rambut yang panjang. Itu merupakan hal yang mungkin menurut murid lain menjengkelkan, tetapi hal tersebut merupakan pelajaran yang tersirat, bahwa kita harus disiplin terhadap peraturan agar kelak kita bisa menjadi pemuda masa depan yang patuh terhadap hukum. Aku meletakan sepedaku seperti biasa di depan pintu UKS yang berada di dekat parkiran guru – guru, guruku membolehkan aku untuk meletakan disana karena beliau- beliau sangat mendukungku untuk ke sekolah dengan sepeda dan itu membuatku sangat senang sekali. Aku pun langsung menuju kelas untuk mendapatkan kesejukan dari AC agar keringatku bisa cepat kering. Aku terkadang tidak menyapa teman sekelasku saat masuk kelas dan langsung duduk di bangku paling depan. Aku melihat sekelilingku, ada yang mengerjakan PR, ada yang ke kelas lain untuk menyapa teman atau pacarnya, bahkan ada yang main game sesampainya di kelas.

 

Seperti biasa aku belajar sampai jam tiga sore, sebelum jam 3 sore aku belajar di dalam kelas dengan guru – guru yang bermacam karakter. Yah, aku sudah mengenali watak setiap guru karena aku merupakan murid tahun terakhir di sekolah ini, ada yang tegas dan ada yang asik, mungkin teman – teman bisa merasakan jengkel terhadap sikap guru – guruku yang seperti itu, akan tetapi itu tidak terlalu kupikirkan karena aku lebih memfokuskan diri kepada ilmu yang akan guruku berikan. Kami mengakhiri pelajaran dan mengucapkan salam kepada guru dan mencium tangannya lalu disambung dengan memberikan beliau senyuman sebelum pulang sebagai tanda terima kasih terhadap ilmu yang diberikan. Aku pulang menggunakan sepeda, pada saat di perjalanan pulang, sepedaku tidak stabil dan diriku terjatuh dan aspal tepat mengenai kepalaku, aku tidak bisa bergerak dan pandanganku mulai menghitam.

“Aduuuhhhh!!!” Diriku terbangun dari lantai yang dimana aku jatuh dari kasurku sambil memegang kepalaku yang sedikit sakit, tanpa sadar diriku mengeluarkan air mata dan berpikir, “Kapan pandemi ini akan berakhir? Aku mulai kangen dengan suasana sekolah dan guru – guruku yang tanpa lelah mengajariku, aku tak mau terkurung di kamar ini terus.” Memang diriku telah rindu dengan suka duka di sekolah, termasuk para guru karena aku akan lulus sebentar lagi. Paling tidak aku ingin menghabiskan waktuku bareng teman dan guruku sehingga kesedihan saat perpisahan tidak terlalu perih.apalagi dalam pandemi ini ada guruku yang telah pergi meninggalkan kami, itu sangat membuatku merasa sakit dan seakan - akan tidak percaya dengan kabar tersebut. Diriku langsung menuju ke meja untuk membuka laptop dan memulai kegiatan pembelajaran jarak jauh dengan guru – guruku yang telah menunggu kami, bukan di gerbang tetapi di dalam dunia maya. Aku hanya bisa bernostalgia dengan kegiatanku di sekolah sebelum pandemi, dan meneruskan sisa pembelajaranku dimasa putih abu – abu yang singkat ini dengan berada di rumah dan mengerjakan tugas – tugas tanpa bisa melihat senyuman maupun sapaan pagi secara tatap muka langsung dari guru – guruku. Karena kita harus tetap dirumah demi menjaga diri dari pandemi. Memang kita jauh secara fisik, tetapi teknologi menyatukan kita pada saat ini. Setidaknya ini bisa membuatku merasa lega, bisa melihat guru – guruku masih sehat di rumahnya dan memberikan kami pembelajaran meskipun beberapa dari beliau masih berusaha dalam mengenal teknologi. Aku berharap bisa menyemangati beliau - beliau walau secara tidak langsung melainkan doa, sehingga mereka diberikan kesehatan dan materi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh kami. Apalagi sebentar lagi hari guru, tentu doa yang baik merupakan hadiah terbaik yang kita berikan saat ini kepada guru - guru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar