SIKLUS
Hari –
hariku terus bergerak seperti kereta yang panjang tanpa akhiran, terus bergerak
melalui jalur hingga sampai tujuan pemberhentian selanjutnya, seperti itulah
hidupku pada saat pandemi ini. Dimana diri ini tidak bisa bebas kesana kemari
karena dibelenggu oleh rantai virus yang sedang menggemparkan dunia ini,
sedangkan saat ini aku seorang pelajar putih abu – abu yang akan menyelesaikan
masa putih abu – abunya untuk segera melanjutkan ke level berikutnya di dalam
game nyata yang bernama kehidupan ini. Apalah daya tujuanku yang disebut cita –
cita itu harus ku perjuangkan didalam sebuah kamar yang lumayan rapi ini.
Yaps,
inilah saatnya aku merasakan yang namanya pembelajaran dari rumah. Sungguh,
sudah berbulan – bulan lamanya pembelajaran ini telah dilaksanakan. Jika
diingat – ingat, corona ini akan ber-ulang tahun untuk pertama kalinya setelah hampir
setahun yang lalu dia lahir dan mengguncangkan semua aspek didunia ini. Diriku
saat ini sudah merasa nyaman dengan pembelajaran dari rumah ini, secara tak
sengaja aku melamun mengingat diriku yang kaget untuk pertama kalinya dalam
melakukan pembelajaran dari rumah. Kenapa tidak? Karena aku selama pembelajaran
di sekolah sangatlah jarang memegang buku jika berada dirumah, dikarenakan aku
lebih suka menyesuaikan tempat dan fungsinya. Yaitu, rumah sebagai tempat
istirahat dan di sekolah sebagai tempat belajar. “Hahhh!!! Apa – apaan ini? Kok
belajar dari rumah? Mana efektif?” aku bergumam dengan menahan emosi. Karena
aku masih berpikir kalau liburan ini ialah murni libur tanpa belajar.
Setelah beberapa hari, minggu, dan bulan yang sudah ku lewati dengan siklus yang terus – menerus berulang, seperti diawali dengan bangun pagi, mengerjakan tugas, makan, minum, shalat, tidur, dan bangun lagi keesokannya untuk mengulang kembali dari awal. Siklus itu memanglah membuatku menjadi bosan, sehingga pada akhirnya aku mulai memotivasi diri, “pokoknya semester ini harus bagus nilainya, demi masuk perguruan tinggi”. Dengan berpikir akan masuk perguruan tinggi dan didukung oleh sifatku yang tidak mau menunda pekerjaan, maka dari itu aku mulai lebih santai dalam mengerjakan tugas – tugas yang diberikan oleh guru. Mungkin saat pertama kali pembelajaran dari rumah, guru memberikan banyak sekali tugas sehingga tidak tertampung oleh otakku pada waktu itu. Mungkin guru pun sama kagetnya, karena harus melakukan pembelajaran dengan menggunakan media digital. Namun, Saat ini guru – guru mulai terbiasa, para pelajar pun mulai menerima walau masih ada setengah dari dirinya meronta untuk bermalas – malasan di rumah. Karena guru – guru sudah memberikan banyak variasi dalam pembelajaran daring maupun luring sehingga para pelajar tidak terlalu terguncang kewarasannya selama dirumah, kenapa dibilang masih ada jiwa kemalasannya? Karena di rumah mungkin pelajar tergoda dengan bantal guling yang empuk, Kasur yang nyaman, dan bantal yang setiap sisinya dapat memebrikan efek dingin. Tapi sampai saat ini pun siklus perjalanan pembelajaranku di rumah terus – menerus berulang tanpa henti. Walau jika secara kesadaran itu memang membosankan, tapi terkadang aku membuat suatu hal yang membuatku tidak bosan, seperti saat menunggu materi baru dengan bermain game atau mendengarkan lagu, mungkin bisa menghilangkan sedikit kesadaran bahwa siklus itu tetap berulang, ya kita tidak tau jika belum mencobanya toh?. Jujur siklus pembelajaran di sekolah dengan siklus pembelajaran di rumah itu berbeda. Mungkin ada kalanya didalam siklus itu ada kesamaan seperti ketiduran saat pembelajaran, tapi hal ini jangan ditiru karena siklus pembelajaran yang baik akan menghasilkan prestasi yang baik pula. Jika dipilih, saat ini aku lebih beradaptasi pada siklus pembelajaran di rumah yang kerjaanya secara umum telah ku sebutkan sebelumnya, karena belajarnya bisa lebih santai. Mungkin untuk bisa lebih dimengerti materinya bisa menggunakan siklus pembelajaran di sekolah meskipun nanti bakalan beradaptasi lagi dengan masa normal baru, katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar