Kelompok
Sosial :Keluarga,
Lingkungan sekitar dan jenisnya
Pernahkah kita membayangkan apa yang
terjadi bila dari lahir kita hidup sendiri tanpa adanya individu lain yang membantu kita? Tentunya
hal itu merupakan sesuatu yang sangat rumit dan menjalankan keidupan kita.
Mengapa demikian? dikarenakan hidup kita ini membutuhkan individu lain
untuk mempertahankan kehidupan kita.
Kita bisa melihat beberapa hal dalam kehidupan yang sangat sederhana dan
mungkin kita belum menyadari akan hal tersebut, yaitu ketika kita tidak bisa
memasak maka kita meminta bantuan dari orang yang mempunyai keahlian dalam
memasak. Lalu, seseorang yang mempunyai keahlian memasak pun membutuhkan
peralatan dan bahan – bahan sebagai pembentuk makanan, maka kita membutuhkan
orang pengerajin untuk membuat itu semua. Tentu dari segala hal itu kita perlu
membentuk sebuah kelompok sosial sebagai wadah
untuk menunjang kebutuhan bersama, persis dengan yang dikemukakan oleh
pakar sosiologi dari Indonesia yaitu Soerjono Soekanto yang mengungkapkan bahwa
kelompok sosial adalah himpunan atau
kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling berhubungan di
antara mereka secara timbal balik dan saling memengaruhi. Dari pernyataan yang
sudah disampaikan maka timbul sebuah permasalahan. Yaitu, apakah keluarga dan
lingkungan sekitarnya merupakan kelompok sosial? Dengan pertanyaan yang
demikian, saya mencoba untuk menyelesaikan permasalahan tersebut melalui esai
ini.
Dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, manusia
diperkirakan sudah memiliki dua kebutuhan pokok bagi kehidupannya, yaitu
mempunyai keinginan untuk menyatu dengan manusia lain dan berkeinginan menyatu
dengan lingkungan sekitarnya. Ketergantungan antar individu telah mendorong
manusia untuk membuat satu atau berbagai kelompok sosial sesuai dengan
kebutuhan manusia masing – masing. Setelah kita memperhatikan definisi kelompok
sosial yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, ternyata memiliki syarat untuk
membentuk himpunan manusia yang dikemukakan juga oleh beliau yakni sebagai
berikut;
1. Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok
yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota satu dengan yang lain dalam
kelompok itu.
3. Ada suatu faktor pengikat yang dimiliki bersama
oleh anggota – anggota kelompok sehingga hubungan antara mereka bertambah erat.
4. Memiliki Struktur, kaidah, dan pola perilaku yang
sama.
5. Memiliki sistem dan proses.
Jika dikaitkan dengan keluarga, maka syarat –
syarat tersebut telah dipenuhi. Mengapa demikian? Karena kita telah memiliki
kesadaran bahwa kita mempunyai sebuah keluar yang berisi ayah, ibu, kakak,
maupun adik yang bisa disebut sebagai anggota dalam keluarga tersebut. Mungkin
secara tidak sadar semua anggota mempunyai hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi seperti halnya ketika adik kita mengalami kesulitan dalam
mengerjakan tugasnya maka tugas seorang kakak membantu adiknya, begitupun
sebaliknya jika kakak meminta adik untuk melakukan sesuatu seperti menutup pintu,
maka itu merupakan tugas seorang adik yang membantu kakaknya. Begitu pun dengan
ibu maupun ayah kita. Selanjutnya, kita akan bertanya – tanya. Apakah keluarga
itu memiliki struktur? Maka jawabannya adalah iya. Setiap anggota keluarga
memiliki peran masing – masing yang dimana seorang ibu memiliki kedudukan
dibawah seorang ayah yang bertugas layaknya sebagai sekretaris dan bendahara
yang mengatur keuangan dan apapun yang berkaitan dengan rumah tangga, sedangkan
seorang ayah bertugas untuk mencari uang dan sebagai kepala keluarga yang
menyetujui atau menolak apapun yang berkaitan dengan keluarga, lalu kita
sebagai anak layaknya seorang anggota yang menaati peraturan dalam keluarga
tersebut.
Semua anggota memiliki pola perilaku yang sama.
Mengapa demikian? Dikarenakan kita sejak dari lahir sudah berada dalam anggota
keluarga tersebut yang menimbulkan primordialisme kepada diri kita serta adanya
peraturan dalam keluarga yang mengikat dan harus dipatuhi oleh seluruh anggota
keluarga, Pernyataan tersebut pun bisa dikatakan bahwa di dalam keluarga telah
meiliki sistem dan proses, jika sebuah keluarga tidak memiliki proses dan
sistem yang memadai maka keluarga tersebut tidak akan bertahan lama.
Keluarga
tidak muncul secara tiba – tiba. Dikarenakan keluarga harus menempuh beberapa
faktor penyebab pembentukan kelompok sosial yang diantaranya sebagai berikut;
1. Kepentingan yang sama.
2. Pertalian darah atau keturunan yang sama.
3. Daerah atau wilayah yang sama.
Terbentuknya kelompok sosial melalui beberapa
faktor dapat membuat dua kebudayaan saling bergabung yang dapat menghasilkan
asimilasi dan akulturasi. Dengan terjadinya faktor tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa pembentukan kelompok sosial keluarga itu tidak bisa lepas
dengan lingkungan sekitarnya, yang dimana untuk membentuk sebuah keluarga harus
memiliki dua kelompok keluarga yang saling bekerja sama dan membentuk sebuah
keluarga baru melalui perkawinan dari perwakilan dari kedua keluarga tersebut.
Lingkungan disekitar kita telah terdapat beberapa
bahkan banyak sekali kelompok sosial yang disebut dengan keluarga. Sehingga Peleburan
dua keluarga juga bukan menjadi fator utama hubungan antara keluarga dengan
lingkungan sekitar. Dikarenakan setiap keluarga itu akan melakukan hubungan
kerja sama dengan keluarga lain atau kelompok sosial yang lebih tinggi lagi.
Contoh dari hubungan antar keluarga yaitu hubungan keluarga kita dengan
tetangga kita. Hal ini dikarenakan adanya kekurangan disalah satu keluarga yang
mengakibatkan keluarga tersebut meminta tolong kepada tetangganya begitu pun
sebaliknya. Dan adapun hubungan keluarga dengan kelompok sosial yang lebih
tinggi seperti akan diadakannya sebuah kegiatan kerja bakti di RW di rumahnya.
Maka setiap keluarga di ruang lingkup itu akan melebur untuk mencapai suatu
tujuan yang sama yaitu menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.
Setelah mengklarifikasi keluarga dan lingkungan
sekitar, dapat diketahui bahwa kelompok sosial ternyata terdapat berbagai
jenis. Jenis – jenis kelompok sosial itu telah dikemukakan para sosiolog untuk
mengklasifikasikan kelompok sosial tersebut. Didalam kelompok sosial menrut
Charles H. Cooley terdapat kelompok sekunder dan kelompok primer, tetapi dalam
konteks Indonesia kelompok primer dan sekunder tercermin dalam paguyuban
(Gameinschaft) dan patembayan (Gesellschaft).
Paguyuban merupakan bentuk
kehidupan bersama di mana anggotanya memiliki hubungan batin yang kuat,
bersifat alamiah dan kekal. Menurut Tonnies ciri-ciri paguyuban adalah:
- Privat,
hubungan yang bersifat pribadi terkhusus untuk beberapa orang saja.
- Intim,
hubungan menyeluruh dan mesra.
- Eksklusif,
hubungan tersebut hanya sebatas untuk kelompoknya sendiri.
Paguyuban
sendiri dapat dibedakan menjadi 3 tipe:
- Paguyuban
yang disebabkan karena ikatan darah. Untuk kaitannya dengan ikatan darah
bisa dimasukan kedalam kelompok sosial keluarga.
- Paguyuban
yang disebabkan karena tempat tinggal, karena persamaan tempat maka mereka
akan melakukan gotong royong dan tolong menolong. Seperti contoh rukun
tetangga dan kelompok arisan.
- Paguyuban
yang disebabkan karena memiliki jiwa dan pemikiran yang sama.
Patembayan merupakan bentuk kehidupan
bersama yang mana di antara anggota terdapat ikatan lahir dan bersifat pokok
dalam kurun waktu yang relatif pendek. Struktunya bersifat mekanis seperti
mesin yang setiap komponennya memiliki fungsi atau kegunaan masing-masing.
Hal seperti itu terjadi karena dalam masyarakat
patembayan yang diutamakan adalah berlangsungnya suatu perjanjian dan kontrak
yang memiliki tujuan tertentu dan bersifat rasional. Contoh masyarakat
patembayan adalah hubungan organisasi politik atau dunia industri sifatnya pun
sementara.
Dapat Pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga
dapat dikategorikan sebagai kelompok paguyuban dikarenakan beberapa tipe dan
sifatnya sangat terikat erat dengan sifat dari sebuah keluarga.
Dari
semua hal yang sudah dipaparkan, menuai hasil yang dapat menjawab topik esai
yang dibuat ini, yaitu keluarga ternyata merupakan kelompok sosial terkecil
yang sudah memenuhi syaratnya seperti yang di kemukakan oleh pakar sosiologi
Soerjono Soekanto. Selain itu ternyata kelompok terkecil itu tidak bisa
dipisahkan dengan lingkungan sekitarnya dikarenakan keluarga membutuhkan
keluarga lain untuk saling bekerja sama, selain itu terdapat beberapa faktor
yang mendukung seperti mempunyai kepentingan yang sama, pertalian darah atau keturunan yang sama, serta wilayah
yang sama. Kita pun dapat menemukan jenis dari keluarga itu yang menuaikan
hasil bahwa keluarga merupakan kelompok paguyuban yang dimana diantara anggota
memiliki hubungan batin yang kuat, di tipenya pun keluarga termasuk kedalam Paguyuban
yang disebabkan karena ikatan darah.
Demikian
lah esai (Kelompok Sosial :Kelurga, Lingkungan sekitar dan
jenisnya). Semoga esai ini dapat membantu dalam pengetahuan kita bersama. Saya
tau bahwa esai ini masih jauh dari kata sempurna sehingga dibutuhkan kritik dan
sarannya sehingga dapat membantu dalam membuat esai – esai berikutnya. Esai ini
cocok sebagai referensi untuk bahan pembelajaran, khususnya untuk para siswa –
siswa SMA Sederajat deng jurusan IPS kelas XI semester 1.