Selasa, 31 Maret 2020



Kelompok Sosial :Keluarga, Lingkungan sekitar dan jenisnya

            Pernahkah kita membayangkan apa yang terjadi bila dari lahir kita hidup sendiri tanpa adanya individu lain yang membantu kita? Tentunya hal itu merupakan sesuatu yang sangat rumit dan menjalankan keidupan kita. Mengapa demikian? dikarenakan hidup kita ini membutuhkan individu lain untuk  mempertahankan kehidupan kita. Kita bisa melihat beberapa hal dalam kehidupan yang sangat sederhana dan mungkin kita belum menyadari akan hal tersebut, yaitu ketika kita tidak bisa memasak maka kita meminta bantuan dari orang yang mempunyai keahlian dalam memasak. Lalu, seseorang yang mempunyai keahlian memasak pun membutuhkan peralatan dan bahan – bahan sebagai pembentuk makanan, maka kita membutuhkan orang pengerajin untuk membuat itu semua. Tentu dari segala hal itu kita perlu membentuk sebuah kelompok sosial sebagai wadah  untuk menunjang kebutuhan bersama, persis dengan yang dikemukakan oleh pakar sosiologi dari Indonesia yaitu Soerjono Soekanto yang mengungkapkan bahwa kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling berhubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling memengaruhi. Dari pernyataan yang sudah disampaikan maka timbul sebuah permasalahan. Yaitu, apakah keluarga dan lingkungan sekitarnya merupakan kelompok sosial? Dengan pertanyaan yang demikian, saya mencoba untuk menyelesaikan permasalahan tersebut melalui esai ini.

Dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, manusia diperkirakan sudah memiliki dua kebutuhan pokok bagi kehidupannya, yaitu mempunyai keinginan untuk menyatu dengan manusia lain dan berkeinginan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Ketergantungan antar individu telah mendorong manusia untuk membuat satu atau berbagai kelompok sosial sesuai dengan kebutuhan manusia masing – masing. Setelah kita memperhatikan definisi kelompok sosial yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto, ternyata memiliki syarat untuk membentuk himpunan manusia yang dikemukakan juga oleh beliau yakni sebagai berikut;
1.     Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2.     Adanya hubungan timbal balik  antara anggota satu dengan yang lain dalam kelompok itu.
3.     Ada suatu faktor pengikat yang dimiliki bersama oleh anggota – anggota kelompok sehingga hubungan antara mereka bertambah erat.
4.     Memiliki Struktur, kaidah, dan pola perilaku yang sama.
5.     Memiliki sistem dan proses.
Jika dikaitkan dengan keluarga, maka syarat – syarat tersebut telah dipenuhi. Mengapa demikian? Karena kita telah memiliki kesadaran bahwa kita mempunyai sebuah keluar yang berisi ayah, ibu, kakak, maupun adik yang bisa disebut sebagai anggota dalam keluarga tersebut. Mungkin secara tidak sadar semua anggota mempunyai hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi seperti halnya ketika adik kita mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugasnya maka tugas seorang kakak membantu adiknya, begitupun sebaliknya jika kakak meminta adik untuk melakukan sesuatu seperti menutup pintu, maka itu merupakan tugas seorang adik yang membantu kakaknya. Begitu pun dengan ibu maupun ayah kita. Selanjutnya, kita akan bertanya – tanya. Apakah keluarga itu memiliki struktur? Maka jawabannya adalah iya. Setiap anggota keluarga memiliki peran masing – masing yang dimana seorang ibu memiliki kedudukan dibawah seorang ayah yang bertugas layaknya sebagai sekretaris dan bendahara yang mengatur keuangan dan apapun yang berkaitan dengan rumah tangga, sedangkan seorang ayah bertugas untuk mencari uang dan sebagai kepala keluarga yang menyetujui atau menolak apapun yang berkaitan dengan keluarga, lalu kita sebagai anak layaknya seorang anggota yang menaati peraturan dalam keluarga tersebut.

Semua anggota memiliki pola perilaku yang sama. Mengapa demikian? Dikarenakan kita sejak dari lahir sudah berada dalam anggota keluarga tersebut yang menimbulkan primordialisme kepada diri kita serta adanya peraturan dalam keluarga yang mengikat dan harus dipatuhi oleh seluruh anggota keluarga, Pernyataan tersebut pun bisa dikatakan bahwa di dalam keluarga telah meiliki sistem dan proses, jika sebuah keluarga tidak memiliki proses dan sistem yang memadai maka keluarga tersebut tidak akan bertahan lama.
 Keluarga tidak muncul secara tiba – tiba. Dikarenakan keluarga harus menempuh beberapa faktor penyebab pembentukan kelompok sosial yang diantaranya sebagai berikut;
1.     Kepentingan yang sama.
2.     Pertalian darah atau keturunan yang sama.
3.     Daerah atau wilayah yang sama.

Terbentuknya kelompok sosial melalui beberapa faktor dapat membuat dua kebudayaan saling bergabung yang dapat menghasilkan asimilasi dan akulturasi. Dengan terjadinya faktor tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembentukan kelompok sosial keluarga itu tidak bisa lepas dengan lingkungan sekitarnya, yang dimana untuk membentuk sebuah keluarga harus memiliki dua kelompok keluarga yang saling bekerja sama dan membentuk sebuah keluarga baru melalui perkawinan dari perwakilan dari kedua keluarga tersebut.

Lingkungan disekitar kita telah terdapat beberapa bahkan banyak sekali kelompok sosial yang disebut dengan keluarga. Sehingga Peleburan dua keluarga juga bukan menjadi fator utama hubungan antara keluarga dengan lingkungan sekitar. Dikarenakan setiap keluarga itu akan melakukan hubungan kerja sama dengan keluarga lain atau kelompok sosial yang lebih tinggi lagi. Contoh dari hubungan antar keluarga yaitu hubungan keluarga kita dengan tetangga kita. Hal ini dikarenakan adanya kekurangan disalah satu keluarga yang mengakibatkan keluarga tersebut meminta tolong kepada tetangganya begitu pun sebaliknya. Dan adapun hubungan keluarga dengan kelompok sosial yang lebih tinggi seperti akan diadakannya sebuah kegiatan kerja bakti di RW di rumahnya. Maka setiap keluarga di ruang lingkup itu akan melebur untuk mencapai suatu tujuan yang sama yaitu menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.

Setelah mengklarifikasi keluarga dan lingkungan sekitar, dapat diketahui bahwa kelompok sosial ternyata terdapat berbagai jenis. Jenis – jenis kelompok sosial itu telah dikemukakan para sosiolog untuk mengklasifikasikan kelompok sosial tersebut. Didalam kelompok sosial menrut Charles H. Cooley terdapat kelompok sekunder dan kelompok primer, tetapi dalam konteks Indonesia kelompok primer dan sekunder tercermin dalam paguyuban (Gameinschaft) dan patembayan (Gesellschaft).
Paguyuban merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggotanya memiliki hubungan batin yang kuat, bersifat alamiah dan kekal. Menurut Tonnies ciri-ciri paguyuban adalah:
  1. Privat, hubungan yang bersifat pribadi terkhusus untuk beberapa orang saja.
  2. Intim, hubungan menyeluruh dan mesra.
  3. Eksklusif, hubungan tersebut hanya sebatas untuk kelompoknya sendiri.
Paguyuban sendiri dapat dibedakan menjadi 3 tipe:
  1. Paguyuban yang disebabkan karena ikatan darah. Untuk kaitannya dengan ikatan darah bisa dimasukan kedalam kelompok sosial keluarga.
  2. Paguyuban yang disebabkan karena tempat tinggal, karena persamaan tempat maka mereka akan melakukan gotong royong dan tolong menolong. Seperti contoh rukun tetangga dan kelompok arisan.
  3. Paguyuban yang disebabkan karena memiliki jiwa dan pemikiran yang sama.
Patembayan merupakan bentuk kehidupan bersama yang mana di antara anggota terdapat ikatan lahir dan bersifat pokok dalam kurun waktu yang relatif pendek. Struktunya bersifat mekanis seperti mesin yang setiap komponennya memiliki fungsi atau kegunaan masing-masing.
Hal seperti itu terjadi karena dalam masyarakat patembayan yang diutamakan adalah berlangsungnya suatu perjanjian dan kontrak yang memiliki tujuan tertentu dan bersifat rasional. Contoh masyarakat patembayan adalah hubungan organisasi politik atau dunia industri sifatnya pun sementara.

Dapat Pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga dapat dikategorikan sebagai kelompok paguyuban dikarenakan beberapa tipe dan sifatnya sangat terikat erat dengan sifat dari sebuah keluarga.



Dari semua hal yang sudah dipaparkan, menuai hasil yang dapat menjawab topik esai yang dibuat ini, yaitu keluarga ternyata merupakan kelompok sosial terkecil yang sudah memenuhi syaratnya seperti yang di kemukakan oleh pakar sosiologi Soerjono Soekanto. Selain itu ternyata kelompok terkecil itu tidak bisa dipisahkan dengan lingkungan sekitarnya dikarenakan keluarga membutuhkan keluarga lain untuk saling bekerja sama, selain itu terdapat beberapa faktor yang mendukung seperti mempunyai kepentingan yang sama, pertalian darah atau keturunan yang sama, serta wilayah yang sama. Kita pun dapat menemukan jenis dari keluarga itu yang menuaikan hasil bahwa keluarga merupakan kelompok paguyuban yang dimana diantara anggota memiliki hubungan batin yang kuat, di tipenya pun keluarga termasuk kedalam Paguyuban yang disebabkan karena ikatan darah.

Demikian lah esai (Kelompok Sosial :Kelurga, Lingkungan sekitar dan jenisnya). Semoga esai ini dapat membantu dalam pengetahuan kita bersama. Saya tau bahwa esai ini masih jauh dari kata sempurna sehingga dibutuhkan kritik dan sarannya sehingga dapat membantu dalam membuat esai – esai berikutnya. Esai ini cocok sebagai referensi untuk bahan pembelajaran, khususnya untuk para siswa – siswa SMA Sederajat deng jurusan IPS kelas XI semester 1.